学习汉语 , 收集中国歌曲,视频和电影,中国的文章,科学和文化的中国,而有关中国的一切,................... . Learn Chinese, collection of chinese songs, videos and movies, chinese article, science and culture chinese, and everything related to chinese
Selasa, 12 November 2013
Kamis, 19 September 2013
Sejarah Kue Bulan / 月餅 yuèbǐng
Kue bulan (Hanzi: 月餅, pinyin: yuèbǐng) adalah penganan tradisional Masyarakat Tionghoa yang menjadi sajian wajib pada perayaan Festival Musim Gugur setiap tahunnya. Di Indonesia, kue bulan biasanya dikenal dalam Bahasa Hokkian-nya, gwee pia atau tiong chiu pia. Sedangkan dalam bahasa Hakka / Khek- nya, yaitu " Nyekh Ppyang " .
Kue bulan tradisional pada dasarnya berbentuk bulat, melambangkan kebulatan dan keutuhan. Namun seiring perkembangan zaman, bentuk-bentuk lainnya muncul menambah variasi dalam komersialisasi kue bulan.
Kue bulan bermula dari penganan sesajian pada persembahan dan penghormatan pada leluhur di musim gugur, yang biasanya merupakan masa panen yang dianggap penting dalam kebudayaan Tionghoa yang berbasis agrikultural.
Perkembangan zaman menjadikan kue bulan berevolusi dari sesajian khusus pertengahan musim gugur kepada penganan dan hadiah namun tetap terkait pada perayaan festival musim gugur tadi.
Beberapa legenda mengemukakan bahwa kue bulan berasal dari Dinasti Ming, yang dikaitkan dengan pemberontakan heroik Zhu Yuanzhang memimpin para petani Han melawan pemerintah Mongol. Namun sebenarnya, kue bulan telah ada tercatat dalam sejarah paling awal pada zaman Dinasti Song. Dari sini, kue bulan dipastikan telah populer dan eksis jauh sebelum Dinasti Ming berdiri.
Pada jaman dinasti Yuan (1280~1368 SM.) Tiongkok dikuasai oleh orang-orang Mongol. Pemimpin-pemimpin dari dinasti sebelumnya, yaitu dinasti Sung (960~1280 SM.) tidak senang tunduk pada pemerintahan asing, kemudian menentukan suatu cara untuk mengkoordinir suatu pemberontakan tanpa diketahui. Pemimpin-pemimpin pemberontak mengetahui bahwa Perayaan Bulan sudah dekat, dan memerintahkan untuk membuat kue khusus. Ke dalam setiap kue bulan dimasukkan sebuah pesan tentang suatu rencana penyerangan. Pada malam Perayaan Bulan, para pemberontak berhasil menyerang dan menggulingkan pemerintah. Selanjutnya adalah berdirinya dinasti Ming (1368~1644 SM.).

Tradisi Makan Kue Bulan
Kue bulan yang bundar adalah sebuah makanan tradisional yang dimakan selama Festival Pertengahan Musim Gugur sebagai peringatan akan keutuhan keluarga.
Festival Pertengahan Musim Gugur (Zhong Qiu Jie)
Setiap tanggal 15 bulan 8 kalendar Lunar, orang Tionghoa di seluruh dunia memperingati Festival Pertengahan Musim Gugur (Zhong Qiu Jie). Pada hari istimewa ini, orang-orang Tionghoa bersembahyang di rumah-rumah ibadah dan melakukan acara keluarga di rumah. Setelah malam tiba, seluruh keluarga menikmati piknik di taman-taman umum. Menurut legenda rakyat, tanggal 15 bulan 8 kalendar Lunar juga merupakan ulang tahun dari Dewa Bumi, atau Tu Di Gung. Sehingga perayaan ini melambangkan akhir kerja keras selama setahun di ladang. Keluarga-keluarga petani menunjukkan rasa terima kasih mereka pada Dewa Bumi, begitu pula pada Tuhan, yang dilambangkan oleh bulan, untuk berkahnya selama setahun.
Kue bulan tradisional pada dasarnya berbentuk bulat, melambangkan kebulatan dan keutuhan. Namun seiring perkembangan zaman, bentuk-bentuk lainnya muncul menambah variasi dalam komersialisasi kue bulan.
Kue bulan bermula dari penganan sesajian pada persembahan dan penghormatan pada leluhur di musim gugur, yang biasanya merupakan masa panen yang dianggap penting dalam kebudayaan Tionghoa yang berbasis agrikultural.
Perkembangan zaman menjadikan kue bulan berevolusi dari sesajian khusus pertengahan musim gugur kepada penganan dan hadiah namun tetap terkait pada perayaan festival musim gugur tadi.
Beberapa legenda mengemukakan bahwa kue bulan berasal dari Dinasti Ming, yang dikaitkan dengan pemberontakan heroik Zhu Yuanzhang memimpin para petani Han melawan pemerintah Mongol. Namun sebenarnya, kue bulan telah ada tercatat dalam sejarah paling awal pada zaman Dinasti Song. Dari sini, kue bulan dipastikan telah populer dan eksis jauh sebelum Dinasti Ming berdiri.
Pada jaman dinasti Yuan (1280~1368 SM.) Tiongkok dikuasai oleh orang-orang Mongol. Pemimpin-pemimpin dari dinasti sebelumnya, yaitu dinasti Sung (960~1280 SM.) tidak senang tunduk pada pemerintahan asing, kemudian menentukan suatu cara untuk mengkoordinir suatu pemberontakan tanpa diketahui. Pemimpin-pemimpin pemberontak mengetahui bahwa Perayaan Bulan sudah dekat, dan memerintahkan untuk membuat kue khusus. Ke dalam setiap kue bulan dimasukkan sebuah pesan tentang suatu rencana penyerangan. Pada malam Perayaan Bulan, para pemberontak berhasil menyerang dan menggulingkan pemerintah. Selanjutnya adalah berdirinya dinasti Ming (1368~1644 SM.).
Tradisi Makan Kue Bulan
Kue bulan yang bundar adalah sebuah makanan tradisional yang dimakan selama Festival Pertengahan Musim Gugur sebagai peringatan akan keutuhan keluarga.
Festival Pertengahan Musim Gugur (Zhong Qiu Jie)
Setiap tanggal 15 bulan 8 kalendar Lunar, orang Tionghoa di seluruh dunia memperingati Festival Pertengahan Musim Gugur (Zhong Qiu Jie). Pada hari istimewa ini, orang-orang Tionghoa bersembahyang di rumah-rumah ibadah dan melakukan acara keluarga di rumah. Setelah malam tiba, seluruh keluarga menikmati piknik di taman-taman umum. Menurut legenda rakyat, tanggal 15 bulan 8 kalendar Lunar juga merupakan ulang tahun dari Dewa Bumi, atau Tu Di Gung. Sehingga perayaan ini melambangkan akhir kerja keras selama setahun di ladang. Keluarga-keluarga petani menunjukkan rasa terima kasih mereka pada Dewa Bumi, begitu pula pada Tuhan, yang dilambangkan oleh bulan, untuk berkahnya selama setahun.
Rabu, 20 Maret 2013
Sejarah Asal Mula Perayaan Ceng Beng
Tradisi ini berasal dari tradisi kerajaan di zaman dulu. Ceng Beng (baca : Qing Ming = cerah dan cemerlang) dipilih karena 15 hari setelah Chunhun, biasanya dipercayai merupakan hari yang baik, cerah, terkadang diiringi hujan gerimis dan cocok untuk melaksanakan ziarah makam. Sebelum zaman Dinasti Qin, ziarah makam hanya monopoli dan hak para bangsawan. Namun setelah Qin Shi-huang mempersatukan Tiongkok dan mengabolisi para bangsawan, rakyat kecil kemudian meniru tradisi ziarah makam ini setiap Ceng Beng.
Sebuah legenda asal mula Ceng Beng menceritakan tentang kaum Cina yang memang punya tradisi yang sedikit banyak tertuju pada peringatan leluhur (sebutannya “kia hao” atau “filial piety”, alias “rasa hormat anak pada orang tua/leluhurnya”) . Makanya di rumah-rumah Cina banyak ditemukan rumah abu atau meja sembahyang leluhur. Karena itulah, nyekar juga menjadi satu kegiatan wajib.
Legenda 1
Hari *Ceng Beng* bermuasal dari zaman *Chun Qiu Zhan Guo *(Musim semi-gugur dan negara saling berperang, abad 11-3 SM), adalah salah satu hari perayaan tradisional suku Han (suku mayoritas di Tiongkok), sebagai salah satu dari 24 *Jie Qi *(sistem kalender Tiongkok), waktunya jatuh antara sebelum dan sesudah 5 April Masehi.
Sesudah hari *Ceng Beng*, di Tiongkok semakin banyak hujan, bumi dipenuhi dengan panorama kecemerlangan musim semi. Pada saat itu semua makhluk hidup "melepaskan yang lama dan memperoleh yang baru", tak peduli apakah itu tanaman di dalam bumi raya, atau tubuh manusia yang hidup berdampingan secara alamiah, semuanya pada saat itu menukar pencemaran yang diperoleh pada musim dingin/salju untuk menyambut suasana musim semi dan merealisasi perubahan dari *Yin *(unsur negatif) ke *Yang* (unsur positif).
Konon, sesudah Yu agung (Âçã», raja pada zaman Tiongkok kuno, abad ke-22 SM) menaklukkan sungai, maka orang-orang menggunakan kosa kata *Qing Ming *(di Indonesia terkenal dengan *Ceng Beng*) untuk merayakan bencana air bah yang telah berhasil dijinakkan dan kondisi negara yang aman tenteram.
Pada saat itu musim semi nan hangat bunga bermekaran, seluruh makhluk hidup bangkit, langit cerah bumi cemerlang, adalah musim yang baik untuk berkelana menginjak rerumputan (Ta Qing). Kebiasaan tersebut telah dimulai sejak dinasti Tang (618-907).
Saat *Ta Qing*, orang-orang selain dapat menikmati panorama indah musim semi, juga sering dilangsungkan beraneka kegiatan hiburan untuk menambah gairah kehidupan.
Legenda 2
Konon, jaman dahulu, terutama bagi orang-orang yang berduit dan berharta, nyekar itu tidak hanya diadakan sekali setahun, tapi bisa berkali-kali (dua kali sebulan bahkan). Dan acara ini dibuat penuh dengan kemewahan dan benar-benar mempertontonkan kekayaan. Kaum sanak keluarga ditandu ke sana lalu ke mari, diiringi dayang-dayang dan pengawal yang berjumlah banyak, makanan yang dibawa itu pasti yang enak-enak dan bunga yang disiapkan juga yang mahal dan harum-harum.
Suatu hari, Kaisar Tang Xuanzong melihat semuanya ini seperti pemborosan massal saja. Dia pun menitahkan agar semua membatasi diri dan hanya mengadakan acara nyekar ini sekali setahun. Dan ia menetapkan hari Ceng Beng (limabelas hari setelah Chunhun, atau hari di mana matahari tiba di katulistiwa) sebagai hari baik untuk ini. Selain karena Ceng Beng adalah hari baik (arti kata Ceng Beng, atau Qing Ming, adalah “cerah dan terang”), hari ini dipilih karena banyak petani sudah selesai panen dan punya waktu senggang untuk mengunjungi makam leluhur. Jadilah Ceng Beng bukan hanya kegiatan orang kaya, tapi kegiatan untuk semua orang.
Legenda 3
Kesederhanaan Ceng Beng juga berkaitan erat dengan cerita Kaisar Cong Er dari Dinasti Tang. Seperti kisah Cina kuno lainnya, latar belakangnya adalah kudeta. Pada masa pelarian (karena berselisih dengan selir kejam) ketika masih jadi putra mahkota Cong Er ini ditemani oleh teman (dan bawahan) yang sangat setia, Jie Zhitui namanya. Saking setianya, dia rela untuk mengorbankan dagingnya supaya si pangeran ini bisa makan dan nggak mati kelaparan. Suatu hari, tiba kabar bahwa Cong Er sudah tidak perlu lari lagi, karena ibu tirinya sudah mati. Bersiaplah Cong Er untuk kembali ke istana dan jadi kaisar. Tapi Je Zhitui menolak untuk ikut balik ke istana, dan menyepi ke sebuah gunung bersama Ibunya.
Cong Er yang sudah jadi kaisar itu tetep kukuh meminta temannya balik dan hidup bahagia di istana. tapi Jie Zhitui bukannya balik ke istana malah semakin bersembunyi ke pedalaman gunung. Cong Er yang sudah habis akal menyuruh prajuritnya untuk membakar gunung, dengan maksud supaya Jie Zhitui keluar dari persembunyian. Tetapi, yang terjadi bukannya keluar, malah Jie Zhitui dan Ibunya tewas terbakar.
Sedihlah sang kaisar. Lalu ia mencanangkan Hari Hanshi (Hari Makanan Dingin), satu hari dalam setahun (setiap tahunnya) di mana orang-orang tidak boleh memasak/memanaskan makanan dengan api. Lambat laun Hanshi pun diintegrasikan ke dalam perayaan Ceng Beng, di mana makanan yang disediakan itu dingin dan hambar.
Legenda 4
Cerita legenda yang lain menyebutkan tentang seorang Raja yang sudah bertahun-tahun pergi berperang (jaman perang antar kerajaan di Cina dulu), namun berakhir dengan kekalahan dan menjadi tawanan perang yang tidak terhormat di negeri lawan. Tapi raja ini tidak tinggal diam dan diam-diam mengumpulkan sekutu untuk mempersiapkan serangan balas dendam. Singkat cerita raja ini berhasil melakukan balas dendam dan negaranya pun kembali ke dalam tangannya.
Sewaktu ia kembali ke rumah, dia baru tahu kalau orang tuanya sudah lama meninggal — dibunuh oleh raja musuh. Dan parahnya lagi tidak ada yang tau di mana orang tua sang raja dimakamkan. Sang Raja akhirnya punya akal dan mencanangkan hari kunjungan makam leluhur. Pada hari yang telah ditentukan, semua orang di negaranya harus dan wajib nyekar. Logikanya, makam yang sepi dan nelangsa, pastilah makam orang tuanya. Sejak hari itulah, setiap tahun semua wajib nyekar ke makam leluhur.
Secara Awam, masih banyak yang belum jelas bahwa sebenarnya mengapa Ceng Beng itu selalu jatuh pada 5 April setiap tahunnya, dan bukannya mengikuti penanggalan kalender Imlek. Dalam tradisi Tionghoa, ada 2 penanggalan yang menggunakan penanggalan masehi. Yakni Ceng Beng dan Tang Che/Festival musim dingin.
Kelihatannya, kalender Tionghoa itu kalender bulan, tidak begitu halnya, karena ada faktor peredaran matahari di dalamnya, yaitu 24 posisi matahari. 1 posisi matahari adalah berjangka waktu 15 hari, ada 2 posisi matahari dalam 1 bulan. Posisi ini telah ada sejak zaman Huangdi (2697 SM, 4700 tahun lalu) didasarkan atas 12 cabang bumi yang diciptakan olehnya.
Penanggalan Tionghoa sendiri memperhitungkan peredaran matahari karena Tiongkok sejak dulu adalah negara agrikultur, mayoritas penduduk Tiongkok adalah petani dan petani harus menanam sesuai musim. Musim bergantung pada peredaran matahari, sehingga posisi matahari ditambahkan dalam kalender Tionghoa.
Adapun posisi penting peredaran matahari dalam kelender Tionghoa adalah :
1. Lipchun (mulai musim semi), tanggal 5 Februari
2. Chunhun (tengah musim semi), tanggal 21 Maret (matahari berada di khatulistiwa)
3. Ceng Beng (cerah dan terang), tanggal 5 April
4. Heche (tengah musim panas), tanggal 21 Juni (saat ini matahari berada pada 23.5 LU, siang terpanjang di belahan bumi utara/Tiongkok)
5. Chiuhun (tengah musim gugur), tanggal 23 September (matahari berada di khatulistiwa)
6 Tangche (tengah musim dingin), tanggal 22 Desember (saat ini matahari berada di 23.5 LS, malam terpanjang di belahan bumi utara/Tiongkok).
Dari 24 posisi matahari ini, maka Ceng Beng dan Tangche dijadikan festival penting dalam kebudayaan Tionghoa.
Kegiatan yang dilakukan berkaitan dengan Ceng Beng
Pada jaman dinasti Tang, implementasi hari Ceng Beng hampir sama dengan kegiatan sekarang, misalnya seperti membakar uang-uangan, menggantung lembaran kertas pada pohon Liu, sembayang dan membersihkan kuburan.
Yang hilang pada saat ini adalah menggantung lembaran kertas, yang sebagai gantinya lembaran kertas itu ditaruh di atas kuburan.
Kebiasaan lainnya adalah bermain layang-layang, makan telur, melukis telur dan mengukir kulit telur. Permainan layang-layang dilakukan pada saat Ceng Beng karena selain cuaca yang cerah dan langit yang terang,kondisi angin sangat ideal untuk bermain layang-layang.
Konon, ada orang setelah layang-layang berkibar di langit biru, memutus talinya, mengandalkan angin mengantarnya ke tempat nan jauh, konon ini bisa menghapus penyakit dan melenyapkan bencana serta mendatangkan nasib baik bagi diri sendiri.
Kebiasaan berikutnya adalah menancapkan pohon *Willow*: konon, kebiasaan menancapkan dahan *willow*(pohon Yangliu), juga demi memperingati *Shen Nong Shi*, yang dianggap sebagai guru leluhur pertanian dan pengobatan. Di sebagian tempat, orang-orang menancapkan dahan* willow *di bawah teritisan rumah, untuk meramalkan cuaca. Sesuai pameo kuno "Kalau dahan *willow* hijau, hujan rintik-rintik; kalau dahan *willow* kering, cuaca cerah". *Willow* memiliki daya hidup sangat kuat, dahannya cukup ditancapkan langsung hidup, setiap tahun menancapkan dahan willow, dimana-mana rimbun.
Sedangkan sejarah pohon Liu dihubungkan dengan Jie Zitui, karena Jie Zitui tewas terbakar di bawah pohon liu.
Kebiasaan lain adalah bermain ayunan *Qiu Qian *(ðãðè): ini adalah adat kebiasaan hari *Ceng Beng* zaman kuno. Sejarahnya panjang, ayunan pada zaman dulu kebanyakan menggunakan dahan sebagai rangka kemudian ditambatkan selendang atau tali.
Akhir-nya berkembang menjadi 2 utas tali ditambah papan kayu sebagai pijakan kaki yang dipasang pada rangka balok kayu yang hingga kini digemari, terutama oleh anak-anak seluruh dunia.
Selain itu ada kebiasaan bermain *Cu Ju *(sepak bola kuno): *Ju* adalah semacam bola yang terbuat dari kulit, di dalam bola tersebut diisi bulu hingga padat. *Cu Ju *menggunakan kaki untuk menyepak bola (Mirip sepak bola saat ini). Ini adalah semacam permainan yang digemari oleh orang-orang pada saat *Ceng Beng *pada zaman kuno. Konon ditemukan oleh *Huang Di *(kaisar Kuning), pada awalnya bertujuan untuk melatih kebugaran para serdadu.
Ada juga kebiasaan untuk Menanam pohon: sebelum dan sesudah *Ceng Beng*, matahari musim semi menyinari, hujan rintik musim semi betebaran, menanam tunas pohon berpeluang hidup tinggi dan dapat tumbuh dengan cepat. Maka, semenjak zaman kuno, di Tiongkok terdapat kebiasaan menanam pohon di kala *Ceng Beng*. Ada orang menyebut hari *Ceng Beng* sebagai "hari raya penanaman pohon". Kebiasaan ini berlangsung hingga hari ini.
Pada dinasti Song (960-1279) dimulai kebiasaan menggantungkan gambar burung walet yang terbuat tepung dan buah pohon liu di depan pintu. Gambar ini disebut burung walet Zitui. Kebiasaan orang-orang Tionghoa yang menaruh untaian kertas panjang di kuburan dan menaruh kertas di atas batu nisan itu dimulai sejak dinasti Ming.
Menurut cerita rakyat yang beredar, kebiasaan seperti itu atas suruhan Zhu Yuanzhang, kaisar pendiri dinasti Ming,untuk mencari kuburan ayahnya. Dikarenakan tidak tahu letaknya, ia menyuruh seluruh rakyat untuk menaruh kertas di batu nisan leluhurnya. Rakyat pun mematuhi perintah tersebut, lalu ia mencari kuburan ayahnya yang batu nisannya tidak ada kertas dan ia menemukannya. (Dalam kisah ini agak berkaitan dengan Legenda 4 diatas. Namun karena ditemukan pada literatur yang berbeda, penyusun tidak berani mengambil kesimpulan sendiri. Mohon bagi yang lebih paham ceritanya memberikan masukan).
Seperti perayaan lainnya, Ceng Ceng juga memiliki makanan khas seperti makan telur yang kulitnya sudah dilukis, tapi untuk telur yang diukir tidak dimakan. Selain itu ada beberapa yang mungkin tidak pernah ada di Indonesia ini seperti makanan dari daun Ai yang menjadi ciri khas suku Khe, bubur dingin, ciri khas rakyat dibawah kaki gunung Mian, serta Qing tuan adalah makanan khas Qingming dari daerah Suzhou.
Pesan Moral Perayaan Ceng Beng :
Festival Ceng Beng pada akhirnya terkait dengan pilar-pilar budaya Tionghoa yaitu
penghormatan leluhur, makanan, kekerabatan, keselarasan dan harmony, setia, berbakti, dan juga kebersamaan.
Dan hal itu tidak hanya ada pada festival Ceng Beng saja tapi tercermin pada semua festival Tionghoa yang ada.
Dengan menghormati leluhur berarti kita harus menjaga sikap hidup kita agar
tidak mencoreng nama leluhur. Semoga pada perayaan festival Ceng Beng ini kita menyadari bagaimana cara kita menghormati leluhur, caranya sederhana yaitu berikanlah kontribusi positif pada lingkungan kita dan selalulah menjaga perilaku kita agar tidak memalukan para leluhur.
Sumber Penulisan:
1. Berdasarkan cerita turun temurun Masyarakat Tionghoa Indonesia.
2. http://www.hoktekbio.com/index.php?option=com_content&view=article&id=62:qing-ming-ceng-beng&catid=27:ritual-a-budaya&Itemid=72
3. http://www.wihara.com/forum/artikel-buddhist/6742-cengbeng.html
4. http://www.chinapage.com/festival/qingming.html
5. TRADITIONAL CHINESE CULTURE by Qizhi Zhang.
6. The Legend of the Kite: A Story of China(Make Friends Around the World)by Kuiming Ha, Yiqi Ha. Published by Soundprints
7. http://www.indoforum.org/archive/index.php/t-41419.html
8. http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/message/42410
9. Dong Zhou Lie Guo Zhi (東周列國志), Feng, Menglong, 1574-1646, 2008.(pertama terbit 1752, Shanghai shu ju)
10. Buletin Maya Indonesia Dharma Mangala, 9 Maret 2004, tahun I, no 7
11. http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/message/42410
Sumber : Asal usul budaya tionghoa
( Dhammacitta )
Hari Cheng Beng
(Mandarin: Qingming). Di mana menurut tradisi Tionghoa, orang akan
beramai-ramai pergi ke tempat pemakaman orang tua atau para leluhurnya untuk
melakukan upacara penghormatan. Biasanya upacara penghormatan ini dilakukan
dengan berbagai jenis, misalnya saja membersihkan kuburan, menebarkan kertas
sampai dengan membakar kertas yang sering dikenal dengan Gincua (mandarin:
Yinzhi=kertas perak).
Cheng beng adalah salah satu dari 24 Jieqi yang ditentukan berdasarkan posisi
bumi terhadap matahari. Pada Kalender Gregorian AWAL (bukan akhir!) Cheng beng
jatuh pada tanggal 5 April atau 4 April. Bila kita artikan kata Cheng beng,
maka Cheng berarti cerah dan Beng artinya terang sehingga bila digabungkan maka
Chengbeng berarti terang dan cerah.
Saat Chengbeng ideal untuk berziarah dan membersihkan makam karena cuaca yang
bagus (cuaca cerah, langit terang). Apalagi pada jaman dahulu lokasi pemakaman
cukup jauh dari tempat pemukiman. Bahkan bila ada orang yang tinggal jauh dari
kampung halamannya, mereka akan berusaha untuk pulang ke kampung halamannya,
khusus untuk melakukan upacara penghormatan para luluhur.
Sejarah Cheng Beng
Sejarah Cheng beng dimulai sejak dulu kala dan sulit dilacak kapan dimulainya.
Pada dinasti Zhou, awalnya tradisi ini merupakan suatu upacara yang berhubungan
dengan musim dan pertanian serta pertanda berakhirnya hawa dingin (bukan cuaca)
dan dimulainya hawa panas. Ada sebuah syair yang menggambarkan bagaimana cheng
beng itu yaitu: "Sehari sebelum cheng beng tidak ada api" atau yang sering
disebut Hanshijie (han: dingin, shi: makanan, jie: perayaan/festival).
Hanshijie adalah hari untuk memperingati Jie Zitui yang tewas terbakar di
gunung Mianshan. Jin Wengong (raja muda negara Jin pada periode Chunqiu akhir
dinasti Zhou) memerintahkan rakyat untuk tidak menyalakan api pada hari
tewasnya Jie Zitui. Semua makanan dimakan dalam kondisi dingin, sehingga
disebut perayaan makanan dingin.
Chengbeng lebih tepat jika dikatakan terjadi pada tengah musim semi.
Pertengahan musim semi (Chunfen) sendiri jatuh pada tanggal 21 Maret, sedangkan
awal musim panas (Lixia) jatuh pada tanggal 6 Mei. Sejak jaman dahulu hari
cheng beng ini adalah hari untuk menghormati leluhur. Pada dinasti Tang, hari
cheng beng ditetapkan sebagai hari wajib untuk para pejabat untuk menghormati
para leluhur yang telah meninggal, dengan mengimplementasikannya berupa
membersihkan kuburan para leluhur, sembahyang dan lain-lain.
Di dinasti Tang ini, implementasi hari cheng beng hampir sama dengan kegiatan
sekarang, misalnya seperti membakar uang-uangan, menggantung lembaran kertas
pada pohon Liu, sembayang dan membersihkan kuburan. Yang hilang adalah
menggantung lembaran kertas, yang sebagai gantinya lembaran kertas itu ditaruh
di atas kuburan. Kebiasaan lainnya adalah bermain layang-layang, makan telur,
melukis telur dan mengukir kulit telur.
Permainan layang-layang dilakukan pada saat Chengbeng karena selain cuaca yang
cerah dan langit yang terang, kondisi angin sangat ideal untuk bermain
layang-layang. Sedangkan pohon Liu dihubungkan dengan Jie Zitui, karena Jie
Zitui tewas terbakar di bawah pohon liu. Pada dinasti Song (960-1279) dimulai
kebiasaan menggantungkan gambar burung walet yang terbuat tepung dan buah pohon
liu di depan pintu. Gambar ini disebut burung walet Zitui.
Kebiasaan orang-orang Tionghoa yang menaruh untaian kertas panjang di kuburan
dan menaruh kertas di atas batu nisan itu dimulai sejak dinasti Ming. Menurut
cerita rakyat yang beredar, kebiasaan seperti itu atas suruhan Zhu Yuanzhang,
kaisar pendiri dinasti Ming, untuk mencari kuburan ayahnya. Dikarenakan tidak
tahu letaknya, ia menyuruh seluruh rakyat untuk menaruh kertas di batu nisan
leluhurnya. Rakyatpun mematuhi perintah tersebut, lalu ia mencari kuburan
ayahnya yang batu nisannya tidak ada kertas dan ia menemukannya.
Kenapa pada hari cheng beng itu harus membersihkan kuburan?
Itu berkaitan dengan tumbuhnya semak belukar yang dikawatirkan akar-akarnya
akan merusak tanah kuburan tersebut. Juga binatang-binatang akan bersarang di
semak tersebut sehingga dapat merusak kuburan itu juga. Dikarenakan saat itu
cuaca mulai menghangat, maka hari itu dianggap hari yang cocok untuk
membersihkan kuburan. Selain cerita di atas, ada pula tradisi dimana jika orang
yang merantau itu ketika pulang pada saat cheng beng, orang itu akan mengambil
tanah tempat lahirnya dan menaruh di kantong merah. Ketika orang tersebut tiba
lagi di tanah tempat ia merantau, ia akan menorehkan tanah tersebut ke alas
kakinya sebagai perlambang bahwa ia tetap menginjak tanah leluhurnya.
sumber : dhammacitta
Jumat, 22 Februari 2013
Legenda Kisah Cinta di China Sam Pek dan Eng Tay
Pada jaman dahulu kala di negeri Cina tepatnya di propinsi Zhejiang hiduplah keluarga Zhu. Mereka termasuk keluarga kaya dan terpandang di daerah tersebut. Keluarga Zhu mempunyai seorang putri yang sangat cantik bernama Cuk Eng Tay. Sebagai anak perempuan, Eng Tay tidak boleh sering keluar rumah. Hal itu selalu membuatnya bosan. Dia ingin sekali pergi bersekolah seperti anak laki-laki. Berulang kali Eng Tay membujuk ayahnya untuk mengijinkannya pergi sekolah, namun ayahnya selalu menolak dengan tegas.
Suatu hari dia mendapat sebuah ide. Eng Tay mengurung diri di kamar dan
berpura-pura sakit. Tuan Zhu yang khawatir dengan kesehatan putri
tunggalnya menyetujui usul Lin Ce, pengasuh putrinya, untuk memanggil
seorang peramal.
"Tuan, saya sarankan anda untuk mengirim putri anda ke sekolah di luar kota, maka dia akan sembuh," kata si peramal.
"Apa? Tidak mungkin aku mengirim anak perempuanku bersekolah. Tak ada seorang gadis pun di sana!" kata Tuan Zhu gusar.
Tiba-tiba peramal itu menyingkap tutup kepala dan jubahnya. Tuan Zhu terkejut karena peramal itu tidak lain adalah Eng Tay.
"Ayah, kalo aku berpakaian seperti laki-laki, bolehkah aku pergi ke
sekolah? Tidak akan ada yang menyangka bahwa aku seorang gadis," bujuk
Eng Tay.
Akhirnya dengan berat hati Tuan zhu mengijinkan Eng Tay untuk pergi bersekolah.
Pada hari yang ditentukan dengan ditemani Lin Ce yang setia, Eng Tay
berangkat ke sekolah Sung Yee. Tentu saja dengan menyamar sebagai
laki-laki. Di tengah perjalanan Eng Tay bertemu dengan seorang pemuda
yang juga akan pergi ke Sung Yee. Mereka pun berkenalan dan memutuskan
untuk melanjutkan perjalanan bersama-sama. Pemuda itu bernama Liang Sam
Pek dan berasal dari Guiji. Mereka pun menjadi akrab dan berjanji untuk
saling menjaga. Sam Pek menganggap Eng Tay sebagai adik dan demikian
sebaliknya Eng Tay menganggap Sam Pek sebagai kakak.
Di sekolah Eng Tay belajar dengan giat. Dia sangat bersemangat, apalagi
kini dia semakin akrab dengan Sam Pek sehingga hari-harinya tidak lagi
membosankan. Karena Eng Tay gadis yang serdik, tidak seorang pun
mencurigai penyamarannya. Maka Sam Pek pun memperlakukan Eng Tay sebagai
adik laki-laki. Padahal Eng Tay ternyata mulai menaruh hati pada Sam
Pek.
Tidak terasa bertahun-tahun Eng Tay menghabiskan harinya di Sung Yee.
Selama itu dia tidak pernah sekali pun pulang menengok ayahnya. Hanya
Lin Ce yang pulang pergi membawa kabar dari Eng Tay dan ayahnya. Suatu
hari Lin Ce membawa surat dari rumah yang mengabarkan bahwa ayahnya
sakit keras dan menyuruhnya pulang. Eng Tay bimbang, dia sangat ingin
pulang menengok ayahnya namun dia juga takut sekembalinya ke rumah dia
tidak akan bisa kembali ke sekolah. Itu artinya Eng Tay tidak bisa
bertemu lagi dengan Sam Pek. Kepada Lin Ce dia berterus terang bahwa dia
telah jatuh cinta kepada Sam Pek.
Akhirnya Eng Tay dan Lin Ce memutuskan utnuk meminta nasehat kepada guru
Eng Tay. Eng Tay berterus terang bahwa dia adalah seorang gadis yang
menyamar agar bisa sekolah. Untunglah beliau tidak marah. Eng Tay
menitipkan sebuah bandulan kipas kepada guru untuk diberikan kepada Sam
Pek.
Dengan berat hati Sam Pek mengantar kepergian Eng Tay. Sebelum berpisah
Eng Tay mencoba memberi isyarat kepada Sam Pek bahwa dia adalah seorang
gadis, namun Sam Pek tidak mengerti arti isyarat Eng Tay. Akhirnya Eng
Tay menyerah dan berkata bahwa dia akan menjodohkan Sam Pek dengan
adiknya, maka Sam Pek harus datang menemuinya dan melamarnya.
Setelah ditinggal Eng Tay, Sam Pek merasa kesepian. Akhirnya dia meminta
ijin gurunya untuk menjenguk Eng Tay. Guru Sun Yee lalu memberikan
bandulan kipas dari Eng Tay kepada Sam Pek dan memberitahukannya bahwa
Eng Tay sebenarnya adalah seorang gadis. Sam Pek terkejut mendengarnya.
Akhirnya dia mengerti bahwa sebenarnya Eng Tay ingin agar Sam Pek
melamar Eng Tay dan bukan adiknya. Dengan hati berbunga-bunga Sam Pek
pun berpamitan dan langsung memacu kudanya ke rumah Eng Tay.
Sementara itu Tuan Zhu bermaksud menjodohkan Eng Tay dengan anak
keluarga kaya dan berkuasa bernama Ma Wencai. Tentu saja Eng Tay
menolaknya dan berterus terang bahwa dia sudah memiliki seorang kekasih
yang akan segera melamarnya. Tuan Zhu sangat marah mendengarnya. Dia
tetap memaksa Eng Tay untuk menerima lamaran Ma Wencai dan mengancam
akan mencelakakan Sam Pek jika Eng Tay berani menolaknya. Maka Eng Tay
pun hanya bisa menangis sedih mendengar keputusan ayahnya.
Beberapa hari kemudian Sam Pek sampai di rumah Eng Tay. Setelah memohon
pada ayahnya, akhirnya Eng Tay bisa menemui Sam Pek. Mereka sangat
bahagia bisa bertemu lagi. Namun Eng Tay juga bersedih karena ini adalah
terakhir kalinya dia bisa menemui Sam Pek. Ketika Sam Pek mengutarakan
niatnya untuk mempersunting Eng Tay, Eng Tay pun tak kuasa menahan air
matanya.
"Kenapa kau kelihatan menangis, adik Eng Tay? Apakah kau tidak suka aku melamarmu?" tanya Sam Pek.
"Aku bahagia kakak Sam Pek. Tapi... ayahku telah menjodohkanku dengan
pria lain dan aku tidak bisa menolaknya. Maafkan aku kakak!" tangis Eng
Tay.
Sam Pek sangat marah mendengarnya. Dia pikir Eng Tay sudah melupakannya dan tidak ingin menjadi istrinya.
"Jadi kau lebih memilih menjadi istri orang kaya itu daripada aku yang miskin?" kata Sam Pek dengan marah.
"Bukan begitu kakak Sam Pek, ini adalah keinginan ayah dan aku tidak
kuasa menolaknya. Mengertilah kakak! Meski aku harus menikah dengan
orang lain, cintaku hanya untuk kakak seorang," isak Eng Tay.
Sam Pek tidak mau mendengar perkataan Eng Tay, dengan sedih dia memacu
kudanya pulang ke rumahnya. Sam Pek kehilangan semangat hidupnya. Maka
dia pun menghabiskan waktunya dengan minum banyak arak hingga lupa
makan, lupa tidur. Akhirnya Sam Pek pun jatuh sakit. Semakin hari
sakitnya semakin parah. Sam Pek pun tidak mau berobat. Baginya hidup
sudah tidak berarti lagi.
Ibu Eng Tay sangat sedih melihat keadaan putranya. Maka dengan berlinang
air mata dia pergi ke rumah Eng Tay dan memohon kepada Tuan Zhu supaya
mengijinkan Eng Tay menemui Sam Pek untuk terakhir kalinya. Namun Tuan
Zhu menolaknya. Dengan hati sedih Eng Tay hanya bisa menitipkan sebuah
bingkisan berisi puisi-puisi cinta dan segumpal rambutnya.
Sam Pek semakin sedih dan semakin tidak bergairah untuk sembuh. Suatu
hari ketika sakitnya semakin parah, dia berpesan kepada ibunya bahwa
jika ia meninggal dia ingin dikuburkan di jalan yang akan dilalui oleh
iring-iringan pengantin Eng Tay. Beberapa saat kemudian Sam Pek pun
menghembuskan nafas terakhirnya.
Eng Tay pun berduka mendengar kematian kekasihnya. Dia menangis
sepanjang hari dan meratapi nasib yang tidak menyatukannya dengan
kekasih yang dicintainya.
Tuan Zhu sangat khawatir melihat keadaaan putrinya, maka dia meminta supaya tanggal pernikahan putrinya dipercepat.
Eng Tay lalu memohon kepada ayahnya supaya diijinkan untuk turun
sebentar dari tandu pengantin dan mengunjungi makam Sam Pek untuk
memberi penghormatan terakhir. Meski tidak setuju tapi akhirnya Tuan Zhu
dan keluarga Ma memberi ijin.
Maka ketika iringan pengantin Eng Tay tiba di makam Sam Pek. Eng Tay
turun dari tandu dan berlutut di makam kekasihnya. Dengan menangis sedih
dia berkata: "Kakak Sam Pek percayalah bahwa cintaku hanya untukmu. Aku
tidak ingin menikah dengan orang lain. Jika kakak mendengarku, bawalah
aku pergi bersama kakak!"
Mendadak angin bertiup sangat kencang dan hujan pun turun dengan
derasnya. Di tengah suara petir yang menggelegar tiba-tiba makam Sam Pek
terbelah dua dan muncullah lubang menganga di depan Eng Tay. Tanpa
pikir panjang Eng Tay pun terjun ke dalam lubang tersebut tanpa sempat
dicegah oleh para pengiringnya. Kemudian makam tersebut kembali menutup
dan Eng Tay pun menghilang.
Suasana kembali cerah seperti tidak pernah ada kejadian apapun.
Tinggallah para pengiring yang masih terkejut dengan kejadian tersebut.
Hanya Lin Ce yang menangis meratapi kepergian majikannya. Tiba-tiba dari
balik makam, muncullah sepasang kupu-kupu yang cantik. Mereka
berputar-putar sebentar di kepala Lin Ce sebelum akhirnya terbang jauh
dengan gembira. Lin Ce yakin bahwa kupu-kupu itu adalah penjelmaan roh
majikannya yang telah bersatu dengan kekasihnya.
Sumber : http://bisnis-anni.blogspot.com/2010/09/legenda-kisah-cinta-di-china-sam-pek.html
Sam Pek dan Eng Tay ~ Pasangan Kupu - kupu
Sumber : http://digikidblogs.blogspot.com/2010/03/sampek-engtay-pasangan-kupu-kupu.html
Pendahuluan
Cerita
ini adalah legenda yang berasal dari negeri Cina yang terjadi pada masa
pemerintahan Jin Timur. Sebuah cerita tentang seorang wanita cantik
yang demi menuntut ilmu, menyamar sebagai pria. Dalam perjalanannya
menuntut ilmu, wanita tersebut bertemu dengan seorang pria lugu dan
akhirnya jatuh cinta kepada pria tersebut. Walaupun kisah cinta mereka
tidak direstui oleh orang tua, tetapi ketulusan cinta mereka telah
menggugah banyak orang dan menjadi pedoman bagi pasangan-pasangan cinta
di dunia ini. Cerita ini bahkan sudah dijadikan legenda cinta di negeri
China sana. Cerita ini sudah secara internasional sudah dianggap sebagai
sebuah serial Romeo and Juliet versi Negeri Tirai Bambu.
Di
Indonesia cerita ini lebih dikenal dengan nama Sampek Engtay. Sampek –
Engtay sendiri adalah terjemahan nama dari tokoh sang pria dan wanita,
梁山伯-祝英台 mengutip dua huruf terakhir dari karakter nama mereka dan
diterjemahkan ke dalam Bahasa Hokkien sehingga menjadi (Liang) Sam Pek
(nama tokoh pria) dan (Zhu) Eng Tay (nama tokoh wanita).
EngTay
adalah anak ke-9 dan merupakan anak perempuan satu-satunya dari
keluarga Zhu. Karena kelihaian dan kepintaran Eng Tay, dia meyakinkan
ayahnya untuk membiarkannya berdandan selayaknya pria dan belajar ke
kota HangZhou. Pada saat itu sesuai dengan tradisi, seorang wanita tidak
boleh menuntut ilmu di sekolah.
Dalam perjalanannya menuju kota
HangZhou, EngTay secara tidak sengaja bertemu dengan SamPek ketika
sedang beristirahat di sebuah paviliun. Hubungan mereka kedua semakin
erat ketika mereka ternyata menjadi teman sekamar di asrama. Dalam
asrama inilah rasa cinta kepada SamPek mulai tumbuh di hati EngTay.
Tetapi sifat SamPek yang gemar membaca dan polos membuatnya tidak
menyadari perilaku EngTay yang feminim.
Tiga tahun berlalu sejak
pertama mereka bertemu, suatu hari EngTay menerima sebuah surat dari
ayahnya yang memerintahkannya untuk pulang secepat mungkin. Karena tidak
mempunyai pilihan lain, EngTay pun hanya bisa berkemas dan kemudian
kembali ke kampung halaman. Sebelum berangkat, EngTay sempat
berterus-terang tentang identitas dirinya kepada istri dari pemilik
sekolah dan menitipkan sebuah kalung giok kepadanya untuk diberikan
kepada SamPek.
SamPek menemani ‘adik angkatnya’ menuju perjalanan
pulang sejauh 17 mil sebagai tanda perpisahan. Sepanjang perjalanan,
EngTay terus saja memberikan petunjuk kepada SamPek tentang identitas
dirinya, tetapi karena keluguannya SamPek tidak menangkap
petunjuk-petunjuk yang diberikan. Akhirnya EngTay menemukan sebuah ide
untuk menjodohkan SamPek dengan ‘adik perempuan’ EngTay yang ternyata
adalah dirinya sendiri. Sebelum mereka berpisah, EngTay kembali
mengingatkan SamPek agar datang untuk dijodohkan dengan adik
perempuannya. SamPek dan EngTay pun berpisah di tempat dimana mereka
bertemu, sebuah paviliun peristirahatan.
Beberapa bulan kemudian,
ketika SamPek mengunjungi EngTay, SamPek baru mengetahui bahwa ternyata
EngTay adalah seorang perempuan. Pada saat itu juga mereka kemudian
bersumpah kepada satu sama lain ‘Sampai maut memisahkan kita’. Tetapi
kebahagiaan dari pertemuan itu hanyalah bersifat sementara karena tidak
lama kemudian EngTay mendengar kabar bahwa ia akan dijodohkan dengan
anak seorang kaya yang bernama Ma WenCai, salah seorang teman sekelasnya
dahulu yang berhasil menyadari bahwa EngTay ternyata adalah seorang
wanita. Mendengar kabar ini, SamPek menjadi patah hati dan kondisi
tubuhnya mulai melemah pada saat itu. Kemudian SamPek yang sakit-sakitan
pun segera mencari seorang tabib untuk mengeluarkan resep obat, sang
tabib memberikan sebuah resep yang berisikan sepuluh jenis obat sebagai
berikut :
1. Tanduk dari raja naga di Laut Timur
2. Kulit pada kepala seekor udang
3. Dinding pelindung yang sudah berumur 10.000 tahun
4. Embun diatas genteng yang berumur 1.000 tahun
5. Sepasang telur dari burung legendaris
6. Usus dari dalam perut belalang
7. Daun dari jamur LingZhi yang tumbuh di gunung dimana dewa tinggal
8. Wewangian yang terdapat pada tubuh Ratu
9. Air suci yang terdapat pada pot bunga yang dipegang oleh Dewi Kwan Im
10. Sebotol arak yang dibuat dari tanaman legendaris.
Mengetahui
sang tabib telah mengeluarkan obat yang mustahil didapat, SamPek pun
menyadari bahwa dirinya telah mengidap penyakit rindu. Tak lama
kemudian, SamPek pun meninggal di dalam kantornya sendiri ketika sedang
bekerja mengabdi kepada negara sebagai seorang gubernur.
Ternyata
penyakit rindu ini juga menjangkit EngTay. Pada hari pernikahan EngTay
dan MaWenCai, EngTay sendiri berisitirahat di kamar karena sakitnya yang
parah, sementara orang tua dan para tamu-tamu lainnya sedang membuat
sebuah acara yang meriah untuk merayakan pernikahan Engtay dan MaWenCai.
Resepsi
masih terus berlanjut, tiba saatnya EngTay untuk mengunjungi rumah dari
pada MaWenCai. Pada saat EngTay sedang ditandu melewati makam SamPek,
sebuah angin besar menghalangi jalan mereka. EngTay pun turun dari tandu
dan berdoa untuk SamPek, mengenang kembali kenangan yang sudah pernah
mereka ukir bersama. Pada saat tersebut, EngTay tenggelam dalam
kesedihan yang sangat dan menangis tersedu-sedu, memohon agar makam
tersebut dapat terbuka.
Sebuah keajaiban terjadi, kilat menyambar
makam tersebut dan akhirnya makam terbuka. Tanpa ragu-ragu EngTay pun
terjun kedalam makam tersebut. Roh keduanya kemudian berubah menjadi
sepasang kupu-kupu dan terbang bebas di angkasa, tidak akan pernah
terpisahkan untuk selamanya.
Pendekatan Cerita
Dari
ringkasan cerita dapat dilihat bahwa pada zaman dahulu, orang-orang
yang diperbolehkan untuk menuntut ilmu ke sekolah-sekolah hanyalah kaum
pria, karena dari dulunya kaum pria dianggap mempunyai derajat lebih
tinggi daripada kaum wanita. Sehingga jika para wanita ingin menuntut
ilmu, mereka harus berpakaian selayaknya pria. Karena mereka semua
sangat pintar di dalam berdandan, sehingga hampir tidak mungkin bagi
mereka untuk diketahui pada zaman tersebut.
Salah satu hal yang
patut dikagumi dari EngTay adalah kepatuhannya kepada orang tua. Sewaktu
menerima surat dari sang ayah, EngTay langsung bergegas pulang ke rumah
untuk menghadap. Bukan itu saja, bahkan EngTay menurut kepada orang tua
nya ketika dijodohkan kepada MaWenCai. Walaupun sebenarnya berdasarkan
tradisi pada saat itu. EngTay bisa saja menolak, tetapi karena ingin
membahagiakan orang tuanya, dia memutuskan untuk menurut saja.
Keputusannya diambil meskipun hatinya sudah diberikan kepada SamPek,
mengikat sebuah cinta tidak berwujud yang tidak dapat dipisahkan oleh
siapapun.
Dari cerita ini juga terlihat sebuah ketulusan cinta
pada zaman itu, dimana EngTay lebih memilih untuk melompat ke dalam
kuburan SamPek ketika kuburan itu terbuka. Hal ini menunjukkan bahwa
dia lebih memilih untuk mengejar cintanya daripada hidup berkelimpahan.
Ketulusan cinta SamPek juga terlihat pada saat kesehatannya yang menurun
drastis.
Satu lagi yang sering menjadi legenda di dalam kisah
SamPek – EngTay ini adalah 10 jenis obat yang dikeluarkan oleh tabib
pada saat SamPek memeriksakan dirinya, sang tabib mengeluarkan sebuah
resep yang berisikan hal-hal yang tidak mungkin didapatkan. Hal ini
menjadi kutipan bagi masyarakat-masyarakat zaman sekarang ketika sedang
mengacu kepada sesuatu yang tidak mungkin dilakukan.
Penutup
Dari
cerita ini banyak sekali hikmah yang dapat kita petik. Mungkin bagi
kita manusia zaman sekarang, banyak sekali adegan-adegan yang bagi kita
bodoh untuk mereka lakukan, misalnya SamPek yang terserang penyakit
rindu sampai kesehatan menurut drastis dan akhirnya meninggal, EngTay
yang rela terjun kedalam kuburan untuk mengejar cintanya kepada SamPek
tetapi malah nyawa sendiri yang melayang.
Memang begitulah manusia,
terkadang perasan mengalahkan akal sehat sehingga mengorbankan kehidupan
sendiri demi cinta. Padahal jika kita menggunakan akal sehat untuk
dipertimbangkan lagi, mungkin kita akan mengira bahwa semua itu tidak
ada gunanya, bagaimana mungkin seorang dapat mengorbankan nyawanya hanya
demi seorang yang sudah mati. Tetapi karena perasaan yang tulus itulah,
sekarang legenda SamPek – EngTay bisa tersebar ke seluruh dunia!
Langganan:
Komentar (Atom)









